Showing posts with label Pesawat terbang. Show all posts
Showing posts with label Pesawat terbang. Show all posts
Friday, 29 April 2016
Sunday, 10 April 2016
Hercules C130 itu jatuh di Medan
Pesawat Hercules milik TNI
AU dengan nomor penerbangan A1310 jatuh di Medan, Selasa (30/6/2015). sekitar
di Jalan Jamin Ginting sekitar pukul 11.48 WIB. Di
perkirakan Menewaskan 113 orang di dalam pesawat, termasuk 12 awak
Beberapa dugaan analisis penyebab
jatuhnya pesawat Hercules menurut pendapat ahli :
Hercules C130 itu jatuh di
Medan. Analisa itu dikemukakan oleh Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI
Agus Supriatna, saat melihat langsung lokasi kejadian.
Pertama, bisa jadi pada saat pesawat Hercules berbelok timbul masalah. Kedua saat belok kecepatan berkurang.
"Namun ini mmasih harus dipastikan lagi karena pesawat Hercules memiliki empat mesin. Dan sejauh ini kita belum tahu kejadian sebenarnya seperti apa
Pertama, bisa jadi pada saat pesawat Hercules berbelok timbul masalah. Kedua saat belok kecepatan berkurang.
"Namun ini mmasih harus dipastikan lagi karena pesawat Hercules memiliki empat mesin. Dan sejauh ini kita belum tahu kejadian sebenarnya seperti apa
posisi kecenderungan pesawat yang berbelok ke arah kanan. Hal
itu semakin menguatkan kemungkinan
besar mesin sebelah kanan pesawat mengalami masalah.
hasil cek
posisi dari propeller engine pesawat, ternyata propeller ini mati,
kemungkinan saja ada juga malfunction yang lain
lokasi jatuhnya Hercules C130 itu jatuh di Medan
Dakota RI-002 Pesawat Penerbangan Niaga Pertama Indonesia
Dakota RI-002 Pesawat Penerbangan Niaga Pertama Indonesia
Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara. Maka pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapus, lalu diganti dengan nama Angkatan Udara Republik Indonesia, dan hari itu kini diperingati sebagai hari kelahiran TNI AU.
Sejarah perjuangan AU tidak melulu berkaitan dengan perjuangan fisik, tetapi mereka juga memiliki peran dalam perjuangan diplomatis. Misalnya menyiapkan angkutan pesawat perintis untuk mengangkut barang, pasukan, para diplomat, saudagar, hingga mengantar Presiden Soekarno keliling ke daerah-daerah.
Orang sudah banyak tahu kisah heroik Kadet Mulyono, Kadet Suharnoko Harbani, dan Kadet Sutarjo yang berhasil menerbangkan dua pesawat Cureng dan Guntei. Dengan dua pesawat itu para kadet mengebom dan meluluh lantakan lokasi pertahanan Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Tetapi bagaimana dengan peran mereka dalam perjuangan diplomatis?
Perjuangan diplomatis TNI AU tidak akan lepas dari peran sarana pesawat terbang. Nah, salah satu perjuangan AU ketika itu ialah melalui kegiatan penerbangan RI-002, nama pesawat jenis angkut sedang pertama yang di sewa pemerintah RI dari veteran penerbang Amerika Serikat.
Dalam buku Sejarah Operasi Penerbangan Indonesia periode 1945-1950 yang diterbitkan Dinas Sejarah TNI AU, disebutkan bila pesawat RI-002 ini milik seorang veteran penerbang Amerika Serikat bernama Robert (Bob) Earl Freeberg.
Sebetulnya pesawat ini adalah pesawat bekas 'war-surplus' dari Pangkalan Udara Clark di Philipina, yang dibeli sekelompok kecil penerbang Amerika, hasil patungan seharga U$D 10 ribu. Berkat jasa Bob, pesawat ini bisa diterbangkan ke Indonesia sebagai sarana pengangkutan barang dan jasa.
Dua tahun paska kemerdekaan, pemerintah RI membutuhkan penerbang asing yang sanggup menerobos blokade Belanda. Dengan perantara seorang warga Birma bernama Savage, Bob Freeberg berkomunikasi dengan Opsir Udara III Muharto dan Dick Tamimi. Kesimpulanya Indonesia membutuhkan kegiatan angkutan udara, dan Bob menjadi pilot pesawat perintis pertama di Indonesia.
Bob menerbangkan pesawat dari Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta pada 1947 dengan rute tujuan pertama kali ke Singapura, melalui Bukittinggi. Dari Singapura dia kembali ke Manila, Pilipina, untuk mengambil pesawat miliknya, Douglas C-47 Skytrain atau RI-002, yang telah disetujui akan disewa pemerintah RI. Pesawat itu diambil secara diam-diam.
Awalnya kawan-kawan Bob tidak setuju, sehingga pesawat disembunyikan. Bob kebingungan, berusaha mencari, hingga akhirnya ketemu. Dia lalu membawa dua orang 'flight-engineer' kebangsaan Pilipina terbang ke Indonesia pada malam hari dengan dalih mengadakan uji terbang 'test-flight'. Ternyata itu sebuah tipu muslihat.
Maka, pada malam itu juga, Bob membawa pesawat R1-002 plus dua engineer ke Pangkalan Pesawat Terbang Maguwo, Yogyakarta. Itulah kisah RI-002, pesawat perintis pertama yang disewa pemerintah RI dari pilot Amerika.
Dakota RI-002
Versi : Merdeka.com
TNI AU hari ini berulang
tahun ke-67. Kisah perjuangan TNI AU tak bisa lepas dari pesawat pertama mereka
dengan nomor registrasi RI-002. Sengaja diberi nomor 002 karena nomor
registrasi 001 disiapkan untuk pesawat kepresidenan yang akan dibeli dengan
biaya sendiri. Sementara, RI-002 saat itu statusnya adalah pesawat charter.
Setelah menunggu sejak dua tahun, akhirnya niat membeli pesawat sendiri tercapai pada 1948. Pesawat Dakota RI-001 dibeli dengan biaya hasil dana 'fonds' Dakota yang dibentuk atas gagasan KSAU Komodor Udara S Suryadarma. Dana tersebut dikumpulkan oleh Biro Rencana dan Propaganda, Pimpinan Opsir Udara II Wiweko Supono, dibantu oleh Opsir Muda Udara III Nurtanio Pringgoadisurjo.
Kepala Biro Penerangan Opsir Muda Udara I J Salatun diberi tugas mengumpulkan dana dengan cara mengikuti Presiden soekarno ke Sumatra menggunakan pesawat RI-002. Kenapa Sumatra menjadi sasaran daerah propaganda dana Dakota? penyebabnya antara lain; karena teritorinya merupakan daerah perdagangan strategis, yang dimungkinkan dilakukan hubungan dagang dengan luar negeri.
Selain itu, potensi kekayaan alam yang letaknya strategi memungkinkan adanya pendapatan devisa dengan cara penyelundupan barang ke luar negeri. Penyelundupan terpaksa dilakukan karena ada blokade Belanda, sehingga perdagangan secara wajar tidak mungkin dilakukan. Karena lokasinya strategis, Sumatra tepat dijadikan sebagai sasaran dana Dakota.
Seperti tertulis dalam buku Sejarah Operasi Penerbangan Indonesia periode 1945-1950 yang diterbitkan Dinas Sejarah TNI AU, sasaran dana Dakota di antaranya daerah Lampung, Bengkulu, Jambi, Pekanbaru, Bukittinggi, Tapanuli dan Aceh.
Untuk mengumpulkan dana itu, soekarno berpidato pertama kali pada 16 Juni 1948 di Aceh Hotel, Kuta Raja, dan berhasil menggugah semangat rakyat Sumatra khususnya Aceh. Lalu panitia Dakota dibentuk, dan diketuai oleh Djunet Yusuf, Said Ahmad Al Habsji. Dalam tempo dua hari, masyarakat Aceh berhasil mengumpulkan uang 130.000 straits dollar.
Uang itu digunakan untuk membeli pesawat terbang AURI. soekarno menunjuk Opsir Udara II Wiweko Supono sebagai Ketua Misi Pembelian pesawat Dakota yang kemudian diberi nama RI-001. Berbekal pesawat itu dipimpin Wiweko, perintis Angkatan Udara, gencar terbang ke India dan Birma.
Bermodal RI-001 Seulawah, Wiweko Supono berhasil mendirikan perusahaan penerbangan niaga yang dikenal sebagai 'Indonesia Airways'. Pesawat RI-001 ini sekaligus menjadi pesawat Kepresidenan, dan digunakan pengangkut pejabat pemerintahan ketika kunjungan ke luar negeri atau ke daerah-daerah, misalnya ke Sumatra.
Kedatangan RI-001 ke Aceh merupakan bukti nyata bagi rakyat Aceh atas sumbangan lewat dana dakota tersebut. Sebagai bentuk rasa terima kasih dari pemerintah pusat maka 'joy-flight' pertama kali dilakukan di Aceh dengan penumpang para tokoh, pemuka, dan pedagang Aceh.
Setelah menunggu sejak dua tahun, akhirnya niat membeli pesawat sendiri tercapai pada 1948. Pesawat Dakota RI-001 dibeli dengan biaya hasil dana 'fonds' Dakota yang dibentuk atas gagasan KSAU Komodor Udara S Suryadarma. Dana tersebut dikumpulkan oleh Biro Rencana dan Propaganda, Pimpinan Opsir Udara II Wiweko Supono, dibantu oleh Opsir Muda Udara III Nurtanio Pringgoadisurjo.
Kepala Biro Penerangan Opsir Muda Udara I J Salatun diberi tugas mengumpulkan dana dengan cara mengikuti Presiden soekarno ke Sumatra menggunakan pesawat RI-002. Kenapa Sumatra menjadi sasaran daerah propaganda dana Dakota? penyebabnya antara lain; karena teritorinya merupakan daerah perdagangan strategis, yang dimungkinkan dilakukan hubungan dagang dengan luar negeri.
Selain itu, potensi kekayaan alam yang letaknya strategi memungkinkan adanya pendapatan devisa dengan cara penyelundupan barang ke luar negeri. Penyelundupan terpaksa dilakukan karena ada blokade Belanda, sehingga perdagangan secara wajar tidak mungkin dilakukan. Karena lokasinya strategis, Sumatra tepat dijadikan sebagai sasaran dana Dakota.
Seperti tertulis dalam buku Sejarah Operasi Penerbangan Indonesia periode 1945-1950 yang diterbitkan Dinas Sejarah TNI AU, sasaran dana Dakota di antaranya daerah Lampung, Bengkulu, Jambi, Pekanbaru, Bukittinggi, Tapanuli dan Aceh.
Untuk mengumpulkan dana itu, soekarno berpidato pertama kali pada 16 Juni 1948 di Aceh Hotel, Kuta Raja, dan berhasil menggugah semangat rakyat Sumatra khususnya Aceh. Lalu panitia Dakota dibentuk, dan diketuai oleh Djunet Yusuf, Said Ahmad Al Habsji. Dalam tempo dua hari, masyarakat Aceh berhasil mengumpulkan uang 130.000 straits dollar.
Uang itu digunakan untuk membeli pesawat terbang AURI. soekarno menunjuk Opsir Udara II Wiweko Supono sebagai Ketua Misi Pembelian pesawat Dakota yang kemudian diberi nama RI-001. Berbekal pesawat itu dipimpin Wiweko, perintis Angkatan Udara, gencar terbang ke India dan Birma.
Bermodal RI-001 Seulawah, Wiweko Supono berhasil mendirikan perusahaan penerbangan niaga yang dikenal sebagai 'Indonesia Airways'. Pesawat RI-001 ini sekaligus menjadi pesawat Kepresidenan, dan digunakan pengangkut pejabat pemerintahan ketika kunjungan ke luar negeri atau ke daerah-daerah, misalnya ke Sumatra.
Kedatangan RI-001 ke Aceh merupakan bukti nyata bagi rakyat Aceh atas sumbangan lewat dana dakota tersebut. Sebagai bentuk rasa terima kasih dari pemerintah pusat maka 'joy-flight' pertama kali dilakukan di Aceh dengan penumpang para tokoh, pemuka, dan pedagang Aceh.
Dakota RI-002
Dari Wikipedia bahasa
Indonesia, ensiklopedia bebas
Dakota RI-002 adalah salah satu pesawat udara yang memperkuat Angkatan
Udara Republik Indonesia (AURI) pada
awal kemerdekaan Indonesia. Pesawat angkut sedang jenis
C-47 Skytrain atau Dakota (julukan dari RAF) buatan pabrikan Douglas Aircraft AS ini disewa dari
seorang veteran penerbang Angkatan
Laut Amerika Serikat, yaitu Robert "Bob" Earl Freeberg[1]. Freeberg adalah seorang
mantan penerbang tempur Angkatan Laut Amerika Serikat saat Perang Dunia II.
Setelah perang berakhir, pria asal Kansas ini menjadi pilot carter CALI (Commercial Air Lines
Incorporated) di Filipina. Suatu hari, dengan perantara
seorang Inggris bernama Savage, Freeberg bertemu dengan seorang perwira AURI,
Opsir Udara III Petit Muharto Kartodirdjo, yang sedang berada di Singapura
untuk mencari pesawat bagi AURI dalam rangka perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Tanpa banyak berpikir, Freeberg segera menyatakan kesediaannya membantu AURI.
Freeberg lantas membeli sebuah pesawat bekas 'war-surplus'
dari Pangkalan Udara Amerika Serikat Clark di Filipina. Freeberg menerbangkan pesawat
dari Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta pada 1947 dengan rute tujuan pertama
kali ke Singapura, melalui Bukittinggi. Dari Singapura dia kembali ke
Manila, Filipina, untuk mengambil pesawat miliknya, Douglas C-47 Skytrain atau
RI-002, yang telah disetujui akan disewa pemerintah RI. Pesawat itu diambil
secara diam-diam.
Awalnya kawan-kawan Bob tidak setuju, sehingga pesawat
disembunyikan. Bob kebingungan, berusaha mencari, hingga akhirnya ketemu. Dia
lalu membawa dua orang 'flight-engineer' kebangsaan Filipina terbang ke
Indonesia pada malam hari dengan dalih mengadakan uji terbang 'test-flight'.
Ternyata itu sebuah tipu muslihat.
Maka, pada malam itu juga, Bob membawa pesawat R1-002
plus dua engineer ke Pangkalan Pesawat Terbang Maguwo,Yogyakarta. Itulah kisah RI-002, pesawat
perintis pertama yang disewa pemerintah RI dari pilot Amerika Serikat.
Saturday, 9 April 2016
Daftar Penerbangan pertama selalu dicatat bersejarah
Daftar
yang belum lengkap penerbangan pertama jenis pesawat bersejarah, diurutkan
menurut tanggal, yaitu:
·
Juni
1875 - Thomas Moy's Aerial Steamer, London, Inggris (tanpa pilot dan attache)
·
9
Oktober 1890 - Clément Ader dari Gretz-Armainvilliers,
Paris Barat, Perancis
·
14
Agustus 1901 - Gustave
Whitehead dari Leutershausen, Bavaria
·
31
Maret 1903 - Richard
Pearse dari Waitohi Flat, Temuka, Pulau Selatan, Selandia Baru
·
17
Desember 1903 - Wright Flyer Wright bersaudara.
·
28
Maret 1906 - Traian Vuia,
seorang insinyur Rumania, menerbangkan
mesin lebih berat dari udara pertama dengan sistem lepas landas pribadi, tenaga
pendorong dan roda pendarat di Montesson dekat
Paris.
·
23
Oktober 1906 - Penerbangan 14-bis Alberto
Santos Dumont.
·
28
Juli 1935 - Boeing B-17 Flying Fortress.
·
17
Desember 1935 - Douglas DC-3.
·
29
Desember 1939 - Consolidated
B-24.
·
2
November 1947 - Hughes H-4
Hercules. The only flight of this oversized flying boat.
·
27
Juli 1949 - de Havilland Comet, pesawat jet
pertama.
·
23
Agustus 1954 - Lockheed C-130 Hercules, angkutan militer.
·
25
April 1962 - Lockheed A-12 Blackbird, pesawat
intai supersonik.
·
9
April 1967 - Boeing 737, pesawat jarak
menengah.
·
31
Desember 1968 - Tupolev Tu-144,
pesawat supersonik Soviet.
·
15
Desember 2009 - Boeing 787 Dreamliner,
pesawat badan lebar besar pertama yang menggunakan bahan
kompositplastik pada sebagian besar badannya.
Sumber
: Wikipedia indonesia
Cipto Penerbang Pertama di Indonesia
Pesawat terbang jenis Nishikoren di terbangkan pertama oleh cipto yang di juluki pesawat peti mati oleh penerbang Inggris
Pada tanggal 10 Oktober
1945 cipto berhasil menerbangkan pesawat jenis Nishikoren yang dicat merah
putih dari Tasikmalaya ke Maguwo,
Adisucipto
(Adisutjipto) lahir tanggal 4 Juli 1916 di Salatiga, Jawa
Tengah. Otaknya encer dan. Lulus dari Algemene Middelbare School (AMS) Semarang
tahun 1936, dengan prestasinya di sekolah
tersebut sangat memuaskan dia ingin melanjutkan masuk Akademi Militer Belanda
di Breda. Namun ayahNya menyarankan Adisutjipto masuk Geneeskundige Hooge Shool
(Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta. Tjipto diam-diam mengikuti tes dan
diterima di Militaire Luchtvaart Opleidings School atau Sekolah Penerbangan
Militer di Kalijati Subang. Tjipto lulus lebih cepat dan mendapat nilai yang
sangat baik. Dia berhak menyandang pangkat letnan muda udara. Tjipto juga
mendapat brevet penerbang kelas atas. Konon dialah satu-satunya orang Indonesia
yang saat itu mempunyai brevet penerbang kelas atas.
Dalam buku Bakti TNI Angkatan Udara 1946-2003 ditulis Tjipto kemudian mendapat tugas di Skadron Pengintai di Jawa. Saat Jepang mengalahkan Belanda, seluruh penerbang Belanda dibebas-tugaskan.Tjipto kembali ke Salatiga dan bekerja sebagai juru tulis.Di kota ini pula Tjipto menyunting seorang gadis bernama Rahayu.
Setelah kemerdekaan, tanggal 5 Oktober 1945 juga dibentuk Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan. Surjadi Suryadarma yang memimpin jawatan ini memanggil Adisutjipto untuk membantu membentuk angkatan udara. Kondisi angkatan udara saat itu sangat memprihatinkan. Tidak ada pilot, tidak ada mekanik pesawat, tidak ada dana, hanya ada beberapa pesawat tua peninggalan Jepang.
Tapi Adisutjipto nekat menerbangkan pesawat-pesawat itu. Tanggal 10 Oktober 1945 dia berhasil menerbangkan pesawat jenis Nishikoren yang dicat merah putih dari Tasikmalaya ke Maguwo, Yogyakarta. Tanggal 27 Oktober 1945 dia berhasil menerbangkan pesawat Cureng berbendera merah putih di sekitar Yogya. Bukan tanpa maksud Tjipto melakukan itu. Hal ini dilakukannya untuk memompa semangat perjuangan rakyat.
Tanggal 1 Desember 1945,
Adisutjipto dan Surjadi Suryadarma mendirikan sekolah penerbang. Lagi-lagi
dalam situasi serba kekurangan. Tjipto menjadi instruktur, sementara Surjadi
mengurus administrasi. Angkatan pertama, ada 31 siswa yang mengikuti sekolah
penerbangan itu. Hanya bermodal pesawat tua tidak menyurutkan langkah para
perintis TNI AU ini untuk belajar.
"Kalian menerbangkan peti mati," ujar para penerbang Kerajaan Inggris yang mengunjungi Lanud Maguwo Yogyakarta tahun 1945. Para penerbang itu geleng-geleng melihat deretan pesawat Cureng buatan Jepang yang jumlahnya tidak seberapa di landasan pacu. Pesawat Cureng itu buatan tahun 1933, beberapa kondisinya jauh dari layak. Karena itu tidak salah jika pilot Inggris menyebutnya peti mati terbang.
"Kalian menerbangkan peti mati," ujar para penerbang Kerajaan Inggris yang mengunjungi Lanud Maguwo Yogyakarta tahun 1945. Para penerbang itu geleng-geleng melihat deretan pesawat Cureng buatan Jepang yang jumlahnya tidak seberapa di landasan pacu. Pesawat Cureng itu buatan tahun 1933, beberapa kondisinya jauh dari layak. Karena itu tidak salah jika pilot Inggris menyebutnya peti mati terbang.
Tapi Kepala Sekolah
Penerbang Maguwo, Komodor Adisutjipto, cuek saja mendengar ucapan tentara
Inggris itu. Kadet-kadet sekolah penerbang itu mencatat prestasi membanggakan.
Bukan hanya mencatat zero accident, Suharnoko, Harbani, Soetardjo Sigit dan
Moeljono berhasil mengebom tangsi-tangsi Belanda di Salatiga, Ambarawa dan
Semarang.
Tahun 1947, Adisutjipto
dan rekan-rekannya ditugasi pemerintah RI untuk mencari bantuan obat-obatan
bagi Palang Merah Indonesia. Bantuan didapat dari Palang merah Malaya,
sementara pesawat angkut Dakota VT-CLA merupakan bantuan dari saudagar di
India. Penerbangan dilakukan secara terbuka. Misi kemanusiaan ini telah
mendapat persetujuan dari Belanda dan Inggris.
Namun tanggal 29 Juli
1947, saat pesawat hendak mendarat di Maguwo, tiba-tiba dua pesawat pemburu
Kitty Hawk milik Belanda muncul. Pesawat pemburu tersebut langsung menembaki
Dakota yang ditumpangi Tjipto dan rekan-rekannya. Pesawat jatuh dan terbakar,
Tjipto dan tujuh rekannya gugur. Hanya satu yang berhasil selamat. Entah apa
maksud Belanda melanggar kesepakatan, namun diduga karena ingin membalas
serangan kadet-kadet Indonesia yang mengebom tangsi Belanda.
Adisutjipto baru berumur
31 tahun saat gugur. Keberanian dan semangatnya terus diceritakan dari generasi
ke generasi. Memotivasi para penerbang TNI AU untuk melakukan hal serupa. Atas
jasa-jasanya pemerintah memberikan gelar Bapak Penerbang Republik Indonesia
pada Adisutjipto. Lapangan Udara Maguwo pun diubah namanya menjadi Lanud
Adisutjipto
Sumber : Buku Bakti TNI
Angkatan Udara 1946-2003 ditulis Tjipto
Pesawat Angkut Dakota VT-CLA jatuh di tembak pemburu Kitty Hawk milik Belanda
Bangkai Pesawat Angkut Dakota VT-CLA jatuh di tembak pemburu Kitty Hawk milik Belanda pada tanggal 29 Juli1947. yang menewaskan Cipto dan tujuh rekannya dalam misi kemanusia.
pada tahun 1947, Adisutjipto
dan rekan-rekannya ditugasi pemerintah RI untuk mencari bantuan obat-obatan
bagi Palang Merah Indonesia. Bantuan didapat dari Palang merah Malaya,
sementara pesawat angkut jenis Dakota VT-CLA merupakan bantuan dari saudagar di
India. Penerbangan dilakukan secara terbuka. Misi kemanusiaan ini telah
mendapat persetujuan dari Belanda dan Inggris.
Namun tanggal 29 Juli
1947, saat pesawat hendak mendarat di Maguwo, tiba-tiba dua pesawat pemburu
Kitty Hawk milik Belanda muncul. Pesawat pemburu tersebut langsung menembaki
Dakota yang ditumpangi Tjipto dan rekan-rekannya. Pesawat jatuh dan terbakar,
Tjipto dan tujuh rekannya gugur. Hanya satu yang berhasil selamat. Entah apa
maksud Belanda melanggar kesepakatan, namun diduga karena ingin membalas
serangan kadet-kadet Indonesia yang mengebom tangsi Belanda.
mesin pesawat boing ( jenis turbofan )
n, F = Gaya dorong pesawat (N);
ms = kapasitas massa aliran udara (kg/detik);
Vjet = Kecepatan aliran udara keluar mesin (m/detik);
V pesawat = Kecepatan pesawat (m/detik).
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/uhartomo/mempersiapkan-mesin-turbofan-untuk-pesawat-komersial-masa-depan-bagian-1_54f34c967455139e2b6c702f
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/uhartomo/mempersiapkan-mesin-turbofan-untuk-pesawat-komersial-masa-depan-bagian-1_54f34c967455139e2b6c702f
Gaya dorong mesin pesawat terbang secara sederhana dapat dihitung:
F = ms . (Vjet – V pesawat) ,
Dengan, F = Gaya dorong pesawat (N);
ms = kapasitas massa aliran udara (kg/detik);
Vjet = Kecepatan aliran udara keluar mesin (m/detik);
V pesawat = Kecepatan pesawat (m/detik).
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/uhartomo/mempersiapkan-mesin-turbofan-untuk-pesawat-komersial-masa-depan-bagian-1_54f34c967455139e2b6c702f
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/uhartomo/mempersiapkan-mesin-turbofan-untuk-pesawat-komersial-masa-depan-bagian-1_54f34c967455139e2b6c702f
kecepatan pesawat turbofan dapat di hitung Dengan, F = Gaya dorong pesawat (N);
ms = kapasitas massa aliran udara (kg/detik);
Vjet = Kecepatan aliran udara keluar mesin (m/detik);
V pesawat = Kecepatan pesawat (m/detik).
- Mesin turbofan
Rancang Bangun Mesin F/A-18 Hornet
Ciri-ciri umum
- Kru: F/A-18C: 1, F/A-18D: 2 (pilot and weapons system officer)
- Panjang: 56 ft (17.1 m)
- Rentang sayap: 40 ft (12.3 m)
- Tinggi: 15 ft 4 in (4.7 m)
- Luas sayap: 400 ft² (38 m²)
- Airfoil: NACA 65A005 mod root, 65A003.5 mod tip
- Berat kosong: 24,700 lb (11,200 kg)
- Berat isi: 37,150 lb (16,850 kg)
- Berat maksimum saat lepas landas: 51,550 lb (23,400 kg)
- Mesin: 2 × General Electric F404-GE-402 turbofans
- Dorongan kering: 11,000 lbf (48.9 kN) masing-masing
- Dorongan dengan pembakar lanjut: 17,750 lbf (79.2 kN) masing-masing
Kinerja
- Laju maksimum: Mach 1.8 (1,190 mph, 1,915 km/h) at 40,000 ft (12,190 m)
- Radius tempur: 330 mi (290 NM, 537 km) on hi-lo-lo-hi mission
- Jangkauan feri: 2,070 mi (1,800 NM, 3,330 km)
- Langit-langit batas: 50,000 ft (15,000 m)
- Laju tanjak: 50,000 ft/min (254 m/s)
- Beban sayap: 93 lb/ft² (450 kg/m²)
- Dorongan/berat: >0.95
Persenjataan
- Senjata api: 1× 20 mm (0.787 in) M61 Vulcan nose mounted gatling gun, 578 rounds
- Titik keras: 9 total: 2× wingtips missile launch rail, 4× under-wing, and 3× under-fuselage dengan kapasitas 13,700 lb (6,215 kg) external fuel and ordnance
- Roket:
- Rudal:
- Air-to-air missiles:
- 4× AIM-9 Sidewinder or 4× AIM-132 ASRAAM or 4× IRIS-T or 4× AIM-120 AMRAAM, and
- 2× AIM-7 Sparrow or additional 2× AIM-120 AMRAAM
- Air-to-surface missiles:
- Anti-ship missile:
- Air-to-air missiles:
- Bom:
- JDAM Precision-guided munition (PGMs)
- Paveway series of Laser guided bombs
- Mk 80 series of unguided iron bombs
- CBU-87 cluster
- CBU-89 gator mine
- CBU-97
- Mk 20 Rockeye II
- B61/Mk57 nuclear bombs[16]
- Others:
- SUU-42A/A Flares/Infrared decoys dispenser pod and chaff pod or
- Electronic countermeasures (ECM) pod or
- AN/AAS-38 Nite Hawk Targeting pods (US Navy only), to be replace byAN/ASQ-228 ATFLIR or
- LITENING targeting pod (USMC, Royal Australian Air Force, Spanish Air Force, and Finnish Air Force only) or
- up to 3× 330 US gallon Sargent Fletcher drop tanks for ferry flight orextended range/loitering time.
Subscribe to:
Posts (Atom)








